Menarik matahari ke bagian Utara kota Yogyakarta sebagai dasar analogi atas kesadaran pemetaan seni rupa yang berlangsung kini. Menyadari bahwa apa yang berlangsung di Jogja membuka peluang bagi kami untuk “memperkeruh” tawaran karakteristik-karakteristik baru. Karena kesenian yang sedang berlangsung di Jogja sudah sejak dulu begitu “berisik”, ketika saya dan sejumlah teman memutuskan pindah ke Jogja dalam rangka melanjutkan studi dalam bidang kesenian, semua itu tidak lepas dari informasi yang sampai ke kami.
Pemahaman luka lain hadir pada karya drawing tentang figur maestro dan karyanya yang menunjukkan keprihatinan Dyan tentang bagaimana Jogja yang belum memiliki museum senirupa, di saat yang sama kota ini dihelat sebagai kota yang melahirkan para seniman dan budayawan Indonesia. Karya yang sempat di- pamerakan pada tahun 2021 itu adalah satu dari banyak variable luka lain. Dari bagian karya ini, ia ingin sampaikan bahwa masih banyaknya kreator, juga seni man lainnya yang tidak termuseumkan mengusik perasaan tentang praktik men- jaga api sejarah yang ingin terus dinyatalakan.
E-Katalog : DI ANTARANYA LUKA