Hutomo, biasa dipanggil Pak Tom, lahir di Jember 21 mei 1953. Ia menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gajah Mada. Sempat ditempatkan disebuah kota kecil Sampang Madura. Th 90 balik ke Jogja mengabdikan diri didunia kesehatan di Dinas Kesehatan Profinsi DIY sampai pensiun th 2009.
Dyan Anggraini lahir di Kediri (Jawa Timur) tanggal 2 Februari 1957. Mengenal seni rupa dari ayahnya, Rais Rayan mahasiswa ASRI angkatan pertama. Dyan di besarkan dalam lingkungan Tamansiswa, lingkungan yang mengenalkan seni budaya sejak dini. Setelah menyelesaikan sekolah di Taman Madya Tamansiswa Kediri , Dyan memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di STSRI “ASRI “Yogyakarta jurusan Seni Lukis, lulus tahun 1982. Menikah dengan Hutomo , dan tinggal selama tujuh tahun di kec.Tambelangan, Kab. Sampang, Madura. Tahun 1989 kembali ke Yogyakarta bekerja menjadi karyawan di Taman Budaya Yogyakarta . Lima belas tahun kemudian , pada tahun 2004 mengemban tugas sebagai Kepala Taman Budaya Yogyakarta hingga tahun 2011.
Bersama Hutomo, Dyan Anggraini menjadi founder Rumah DAS dan setia membersamai tim Yayasan Pojok Rumah DAS sebagai penasihat dan bord Yayasan.
Lahir di Makassar. Lepas menyelesaikan pendidikan di jurusan Tata Kelola Seni ISI Yk, Achmad membayangankan akan bertandang dan merekam pengetahuan komunitas, kemudian di hari lain akan duduk di satu pojok ruang sembari membaui aroma kertas lembab yang tersusun di atas rak dan lantai. Nyatanya semangat kesenian yang dinamis, bergulir, dan sarat akan kontestasi mengantarkan saya ke pojok-pojok lainnya. Saat ini saling membersamai di Rumah_DAS, dan di waktu-waktu khusus terlibat selaku kurator; penulis; atau penata artistik.
Zulfikar Muhammad Hasan adalah seorang pendidik dan peneliti yang lahir dan besar di Jombang. Fokus utamanya terletak pada bidang Sumber Daya Manusia, khususnya dalam memahami dinamika organisasi dan perilaku manusia di lingkungan kerja. Dengan latar belakang pendidikan yang kuat dan pengalaman yang luas, Zulfikar telah mengabdikan dirinya dalam mengembangkan pengetahuan tentang bagaimana manusia berinteraksi dan beradaptasi dalam konteks profesional. Melalui karyanya, ia berupaya untuk meningkatkan efektivitas organisasi dan kesejahteraan individu di tempat kerja. Selain itu, Zulfikar juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan yang bertujuan untuk memajukan pengetahuan dan pemahaman tentang manajemen sumber daya manusia di masyarakat luas.
Asa lahir di Sampang, Madura. Ia menyelesaikan pendidikan di program studi Arsitektur Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, dan tergabung dalam anggota IAI (Ikatan Arsitek Indonesia). Sebagai seorang ibu dari 3 anak, ia berperan penting dalam beberapa aktivitas manajemen Dyan Anggraini Studio, tim produksi Cocomomo dan Ayang Cempaka Studio sejak tahun 2010. Sebagai arsitek, sempat bekerja di sejumlah perusahaan sebelum akhirnya memutuskan mendampingi pelukis Dyan Anggraini sebagai asisten. Saat ini Asa sebagai manager Yayasan Pojok Rumah DAS.
Lahir di Kebumen. Karen telah menyelesaikan pendidikan program studi S-1 Pendidikan Senirupa Universitas Negeri Yogyakarta, dan studi S-2 di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Risetnya saat ini seputar arsip dan kehadiran seniman rupa, membaca pemikiran religiusitas dan ekologi-sosial budaya. Sempat bekerja sebagai manajer program di Yayasan Biennale Yogyakarta dan redaktur Newsletter Biennale Equator (2022-2024). Karen juga terlibat dalam dunia anak-anak sebagai guru seni di ruang belajar Art for Children, Taman Budaya Yogyakarta dan di beberapa ruang belajar. Sempat menjadi penulis buku pegangan guru Kurikulum Merdeka dari KEMDIKBUD tahun 2021-2022. Sembari melakukan aktivitas tersebut, Karen masih terus bekerja dalam ranah kuratorial seni rupa dan penulisan artikel seputar seni rupa, seni tradisi, dan pendidikan seni. Pada akhir tahun 2023 ia menjadi kurator pameran TUR BERBISIK#1 pada program Rumah DAS, sebelum akhirnya menjadi manajer progam di Yayasan Pojok Rumah DAS.
Marketing dan Komunikasi & Kepala Dapur diKedai Yayasan Pojok Rumah DAS
Lahir dan tumbuh di Bumi Cindo Silampari, Musi Rawas. Syeean menapakkan kaki di Yogyakarta sejak 2017, sebagai tempat tumbuh selanjutnya. Ia menyelesaikan studi di bidang Arkeologi Universitas Gadjah Mada, dengan spesialisasi pada konservasi, yang membuatnya terfokus pada karya-karya dan koleksi Old Photography. Sejak tahun 2019, aktif terlibat dalam kegiatan museum dan seni budaya di Yogyakarta. Ketertarikannya terhadap konservasi budaya tak benda dan artefak seni mendorongnya untuk secara rutin melakukan penelitian kecil dan terlibat dalam berbagai perhelatan.
Selain akrab dengan kerja media dan publikasi, belakangan ini aktif secara independen dalam proyek komunal bersama Lelaku Studio dan Banyan Artage, serta berkontribusi secara paruh waktu pada ajang tertentu.
Dinar lahir 1999, di Banjarnegara. Seorang penulis artikel evergreen dan sebagai media relasi event pameran/musik. Lulus dari jurusan broadcasting, Manajemen Produksi Berita MMTC Yogyakarta pada tahun 2023. Mulai berkecimpung di dunia media relasi sejak tahun 2021 di mulai dari Jogjarockarta Festival, dan Biennale Jogja Equator #7, Tur Berbisik #1 pada tahun 2023.
(15 Juni 2000), lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia UGM. Berangkat dari hobi membaca dan menulis, Juwita menyelami kerja-kerja keredaksian dan mencoba mengaplikasikannya pada bidang seni. Saat ini masih berkonsisten pada ulasan-ulasan dan reportase apresiasi seni dan sastra yang bisa disimak di laman instagram @antariksajourney.co dan @reviewgabut. Sila menjumpainya melalui instagram @juwitaju atau melalui surel halo.juwitawardah@gmail.com.
Lahir 1999, di Yogyakarta. Happy seorang desainer grafis lepas. Melakukan kerja desain dan tata letak untuk kebutuhan digital dan cetak-mencetak. Lulus dari jurusan DKV STSRD VISI pada tahun 2022. Mulai bergabung kedalam tim desain pameran seni sejak tahun 2021 dimulai dari Biennale Jogja Equator #6, Festival Kebudayaan Yogyakarta 2022, Broken White Project-Ace House Collective dan pameran seni lainnya.
Lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta Fakultas Seni Rupa dan Desain program studi Seni Rupa Murni konsentrasi Seni Lukis. Memiliki pengalaman sebagai Assistant Designer Illustrator selama 2 tahun di Bandung. Memulai awal karir menjadi seorang seniman sejak kuliah pada tahun 2019 hingga saat ini, dengan mengambil sebuah ide gagasan mengenai anak kecil yang suka dengan berbagai jenis makanan manis. Oleh karena itu, mempunyai ketertarikan kuat dengan hal-hal yang berhubungan dengan dunia anak, kue, permen, pastry, dll. Skill yang dikuasai yaitu mengoprasikan adobe illustrator, photoshop, microsoft word, melukis, menggambar, illustrasi, membuat craft (merajut, clay, dll), serta hal lain yang berhubungan dengan seni rupa. Memiliki rencana melanjutkan S2 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, sekarang sedang mencari berbagai pengalaman yang menunjang kehidupannya.
Tinggal di Tempel, Yogykarta. Dyan meluluskan dirinya di SMK MA’ARIF W Sleman. Ia menjadi koki dan ahli membuat es coklat di – di Kedai Rumah DAS.
Dwi Winarsih atau kerap disapa dengan sebutan Ibu Wiwin, merupakan lulusan FSRD ISI tahun 1986 dan melanjutkan AKTA 4 di UNY pada tahun 2017. Ia telah menjadi guru seni selama hampir 25 tahun. Ibu Wiwin merupakan salah seorang pendiri AFC bersama Yuswantoro Adi dan beberapa guru lainnya. Ia sempat menjadi guru art di Yogyakarta International School(1999-2011), menjadi pengisi workshop bagi guru-guru seni (2017 - sekarang), mengajar privat di beberapa tempat, serta guru di beberapa sekolah di Yogyakarta hingga sekarang.
Fasmaqullah, seorang perupa yang berasal dari Kalimantan Timur. Lulusan Pendidikan Seni Rupa di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (2019) & Kajian Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2023). Aktif berkesenian sejak tahun 2012 mengawalinya dengan street art dan masih aktif melukis sampai sekarang. Ia pernah bekerja sebagai asisten seniman (Dyan Anggraini). Selama menjadi asisten, praktik pengelolaan dan pengarsipan seni adalah pengalaman utamanya. Ditengah rutinitas tersebut, Fasma juga berprofesi sebagai guru seni lukis untuk anak-anak, menulis lepas serta melakukan kegiatan bercocok tanaman hias. Kini, praktik berkesenian Fasma fokus menyoal isu kesetaraan gender, eksplorasi diri dan pendidikan seni lukis untuk anak-anak.
Antonius Satrio Wicaksono menyelesaikan studi arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya UGM pada Agustus 2023. Satrio telah berpartisipasi dalam berbagai riset sejarah-budaya sedari kuliah, dan menaruh minat pada studi lanskap. Beberapa bulan terakhir, Satrio menjadi peneliti untuk program “Tur Berbisik” Rumah_DAS, menjadi asisten peneliti di Departemen Arkeologi UGM untuk kajian arkeologi antroposen di Tuban, Jawa Timur, dan kini sedang mengerjakan reinventarisasi koleksi dan pembuatan katalog anotasi di Museum Affandi.